Wednesday, 3 August 2011

Puisi Hidup

Dosa
“Tak bisa dipungkiri, tangan ini tiada henti merobek kain hitam kelam, lalu dibiarkannya tetesan jatuh menutup mata hati. Satu jengkal didepan terlihat semu, lalu berlalu.”
 
Detak terakhir
 “Ini belum berakhir, meski tajam ranjau perbudak langkah kaki,tanganku sanggup gandakan matahari,
ini belum berakhir, meski sesar peluru tembus merobek dada, tubuhku mampu topang bumi pertiwi,
hingga dingin yg tak begitu dingin mengganjal rantai juangku, masih kutatap tajam puncak merapi. Karena ditelapak kaki ini, seribu nyawa menggebu.”
 
Jam  1 siang
“Menantang siluet hidup, itu yg disebut diam?
Seribu manusia setengah bangkai lari terengah-engah merayapi papan catur semu,
tlah dibungkam mulut dan hatinya,
tanpa kata dan rasa,
gemuruh riuh teriak senapan jadi tuhan,
dan kuda putih betina, dibiarkan saja lalu, berlalu.”

Sunrise
“Kala itu langit senyap, pagi tak lagi seindah lusa,
dan asap dan debu bukan lagi alasan mata terbuka, hari itu juga mereka telah sepakati, tanpa gencatan senjata atau pasukan artileri dipulangi,
tapi darah disumpah untuk berhenti, dibawah tiang duka bentang ladang mortar bersarang.”
 
Lelap Lunglai
“Jauh didalam kepala ini ribuan harapan bermukim, senapan tergenggam sebagai tiang kehidupan di kala fajar bertolak. Jika alam berbaikhati untuk tetap terjaga, izinkan kami terlelap sekedar menjadikan nyata harapan ini, tiga kedipan kunang lamanya”

Menggenggam harap
"Ketika tangan ini cukup terkepal kuat, akan kuruntuhkan dan kubiarkan mereka terkubur bersama bendera busuk itu; lalu kusebut mereka pengkhianat bangsaku"
 
Bangkit!
“Bangkit! Yg papar dibawah terinjak derap penguasa tak lain kau pengecut! Bangkit! Waktu yg jadi pembeda, gulung dan kemasi kau bisa jatuhkan mereka!”
 
Tergeletak, terbelalak
“Terkapar, tanpa daya dan asa. Tubuh ini seakan berkudeta, di dalamnya pandangan dan harapan dihakimi, didengari puluhan pasal kehidupan.”
 
Riuh melodi tempur
"Kita semua percaya akan pertempuran tiga hari tiga malam, ditengah gemuruh riuh gebukan genderang, kita genggam kuas berujung darah para lawan"
 
 
 
Pita merah hati
“Untk dia yang bicara panjang lebar, warna merah turut mendukung keangkuhanmu. Tinggal menunggu waktu, kau mati ditanganku. Itupun cukup memangkas lingkaran cahaya diatas kepalaku, berniat dahului hari esok.”
 
Suara kamar sebelah
“Tertawalah! Bersenang-senanglah kalian yang hidup tanpa bertahan hidup!!!! Bahkan tanah yg kau pijaki itu bukanlah jerih payahmu!! Sementara itu aku beteriak!! Sekerasnya!!! hingga nantinya ku injak-injak kalian semua !!!!!!”
 
Menimbang kanan kiri
“Bukan lagi urusan kawan atau lawan, apa yg kalian tuangkan adalah omong kosong. Dan kalian jarang sekali berpikir sehat.”
 
Hidup pendeta renta
“Dengan tenang terkapar diantara busur dan salib, terasa sunyi tanpa harapan, bahkan tanpa kehidupan.”

Budi tak terbalas
Seakan terjebak, dikamar tua bertembok kuning pucat. Terasa pahit yg mendalam ketika sadar akan penderitaan Sang Penolong, raga ini tak akan menyia-nyiakan semua yg kau pertaruhkan. Bendera hitam trus berkibar, walau tiada angin.”